
Jari-jari yang kukunya runcing itu kini memijit-mijit tombol, namun ia takpernah berani menyelesaikannya. Ia takpunya cukup keberanian untuk menghadapi kenyataan bahwa ia ingin bicara dengan seseorang pada malam selarut ini. Tangannya terus saja bergerak memijit tombol-tombol, tapi semuanya itu takpernah selesai. Pernah juga ia menyelesaikan nomor-nomor yang diingatnya, untuk segera ditutupnya begitu telpon di seberang diangkat. Ia tak cukup berani.





