Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

19 Jun 2012

Indonesian Poems: Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono

http://danakaryabakti-indonesianpoems.blogspot.com/2009/06/puisi-puisi-sapardi-djoko-damono.html
Buat cadangan analisis ^^8

Ada Apa Dengan [ Hujan Bulan Juni - SDD ] ?



Hujan Bulan Juni


1/
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

2/
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

3/
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono


Ada apa dengan hujan di bulan Juni? Tidak terjadi apa-apa pada hujan di bulan Juni. Ia sedang asyik masyuk dengan ketabahan, kebijakan, dan kearifannya di langit. Juni memang musim kemarau seharusnya dan bukan saatnya hujan menemui pohon, bunga, tanah, dan segala yang ada di bumi. Saat itu hujan sedang bersiap turun menunggu saatnya menjumpai bumi. Hujan menahan rindu sekuat-kuatnya untuk tidak turun ke bumi. Berikut adalah pembacaan singkat tentang Hujan Bulan Juni.


“Mari kita mulai dari yang takmungkin,” Jacques Derrida

Membaca puisi berarti sedang membaca teks merdeka yang telah mendeklarasikan kemerdekaannya sesaat setelah penyair menyelesaikannya. Untuk mendapatkan makna terdalamnya, ia dapat dibedah dari sisi manapun, dengan logika apapun. Demikianlah Derrida mengajarkan cara membaca sebuah teks. Oleh sebab itu, kali ini Hujan Bulan Juni akan saya baca dengan pembacaan terbalik seperti ini:


3/
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

2/
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

1/
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu


Secara tipografi puisi ini berlogika dari bawah ke atas: 3, 2, lalu 1. Saya menggunakan logika dari bawah ke atas karena hujan bergerak dari musim hujan ke musim kemarau naik dari bawah ke atas. Hujan diserap oleh akar pada bagian paling bawah. Itulah sebabnya bait yang memuat tentang penyerapan itu disimpan pada akhir puisi. Bait kedua adalah penghapusan jejak, disimpan di tengah sebagai proses kepergian. Bait pertama adalah puncak perjuangan hujan bulan Juni menahan rindunya. Ia disimpan pada posisi paling atas karena pada bulan Juni hujan sedang berdiam diri di atas langit. Penjelasannya mari kita simak:

3/
//tak ada yang lebih arif/ dari hujan bulan Juni/ dua larik ini menggambarkan eksistensi kearifan hujan bulan Juni. Dengan larik ini Damono berani berkata secara lugas bahwa yang paling arif di dunia ini adalah hujan bulan Juni! Tidak ada yang lebih arif kecuali dia. Dalam kamus Bahasa Indonesia arif berarti bijaksana, paham dan mengerti. Mengapa hujan bulan Juni mendapat kemewahan kearifan dari Damono? Hal ini dijelaskan pada dua larik selanjutnya, //dibiarkannya yang tak terucapkan/ diserap akar pohon bunga itu// Dua larih ini bercerita tentang kerelaan hujan memberikan “yang takterucapkan” kepada pohon bunga. “Yang takterucapkan” ini tergambar jelas dalam puisi “Aku Ingin” yang sebelumnya telah dibahas dalam jurnal “Ketaksederhanaan dalam Aku Ingin SDD.” //Aku ingin mencintaimu/ dengan sederhana/ dengan isyarat yang taksempat/diucapkan awan kepada hujan/ yang menjadikannya tiada// Dalam bait ini Damon meminjam isyarat yang taksempat diucapkan awan kepada hujan sebagai cara mencintai. Lalu, sekali lagi Damono meminjam isyarat yang taksempat diucapkan awan kepada hujan ini sebagai “yang takterucapkan” dalam puisi Hujan Bulan Juni. “Yang takterucapkan” dalam puisi ini adalah cinta sederhana yang sebetulnya tidak sederhana. Ketaksederhanaan inilah yang membuatnya takterucapkan.

Pada musim hujan, bulan Oktober – April, hujan menemani pohon bunga dan membiarkan “yang takterucapkan” diserap akarnya. Beginilah cinta yang sederhana dimetaforkan. “Biar” adalah kata penghubung untuk menyatakan hal-hal yg tidak bersyarat. Hujan pada musim basah atau pada musim hujan memberikan energi kepada pohon bunga tanpa syarat. Bukankah sejatinya cinta adalah memberi tanpa mengharapkan balasan? Inilah mengapa hujan bulan Juni menjadi mahluk paling arif di dunia ini. Ia paham bahwa air sangat dibutuhkan oleh pohon bunga. Ia memberikannya dengan penuh kerelaan tanpa syarat. Ia mengerti bahwa air adalah kekuatan yang ditampung oleh pohon bunga untuk menghadapi musim kemarau. Air adalah bekal pohon bunga untuk menjalani April – Oktober tanpanya. Air adalah bekal yang menjadi energi untuk pohon bunga menghadapi jarak dan waktu yang memisahkannya dengan hujan. Hujan bulan Juni telah membiarkan dirinya yang lalu diserap oleh akar pohon bunga.

Inilah mungkin yang dimaksud dengan kearifan sejati dalam mencintai. Seseorang memberikan yang terbaik untuk yang dicintainya tanpa syarat. Cintanya memberi energi besar dan membuat yang dicintainya kuat menghadapi keterpisahan. Cintanya menjadi energi untuk menghapus bentangan jarak dan waktu. Cintanya mengalahkan rindu.

2/
//tak ada yang lebih bijak/ dari hujan bulan Juni// Melalui dua baris pertama dalam bait ini Damono kembali mengukuhkan hujan bulan juni sebaga satu-satunya mahluk yang paling bijak di dunia ini. Takada yang lebih bijak kecuali dia. Bijak berarti selalu menggunakan akal budinya, pandai, dan mahir. Mengapa hujan disebut bijak? Karena takada yang lebih logis, panda, dan mahir dalam menghapus jejak-jejak kaki daripada hujan bulan Juni. Hal ini disampaikan dalam dua larik berikutnya, // dihapusnya jejak-jejak kakinya/ yang ragu-ragu di jalan itu// Dalam kamus, jejak adalah bekas tapak kaki; bekas langkah.  jatuhnya kaki di tanah dsb; tingkah laku (perbuatan) yg telah dilakukan; perbuatan (kelakuan) yg jadi teladan; bekas yg menunjukkan adanya perbuatan dsb yg telah dilakukan. Jekak kaki adalah penanda kehadiran. Hujan hadir semusim, menemani pohon bunga. Sampai musim panas datang, ia dengan cermat menghapus keberadaannya. Ia merelakan keberadaan dirinya menjadi ketiadaan selama semusim mendatang. Kepergiannya adalah sebuah keniscayaan.

Menghapus jejak yang ragu-ragu, kacau adalah sesuatu yang harus dilakukan agar tidak ada yang berbekas di bumi. Tidak ada apapun dan siapapun yang tidak ragu meninggalkan apa atau siapa yang dicintainya bukan? Tidak ada apapun dan siapapun yang mau meninggalkan apapun dan siapapun yang dicintainya, termasuh hujan. Ia masih ingin membersamai pohon bunga sampai tiba masanya pohon itu benar-benar berbunga. Namun, musim panas adalah keniscayaan. Menghapus jejak-jejak kaki adalah keharusan. Menghapus tanda keberangkatannya pergi meninggalkan pohon bunga adalah kewajiban agar yang ditinggalkan takterlalu sedih.

1/
//tak ada yang lebih tabah/ dari hujan bulan Juni// Damono menobatkan hujan bulan Juni sebagai sesuatu yang paling tabah di dunia ini. Dalam kamus, tabah berarti tetap dan kuat hati (dalam menghadapi bahaya) dan berani. Kata ini menggambarkan kekuatan yang amat besar. Ia tidak identik dengan sikap menyerah dan kediaman. Tabah adalah tanda perjuangan hati untuk tetap kuat. Itulah mengapa ia digunakan untuk mengibaratkan sesuatu yang sedang menahan rindu. Dulu, kemarau pada bulan Juni hampir menjadi sebuah keniscayaan. Inilah yang menjadi alasan Damono menggunakan hujan bulan juni sebagai metafora perindu yang takada yang lebih tabah darinya dalam hal merahasiakan rindu. Kerahasiaan rindu yang ia ciptakan bukan gambaran ketakutan melainkan gambaran keberanian.

//dirahasiakannya rintik rindunya/ kepada pohon berbunga itu// Dua larik ini menggambarkan bahwa hujan memutuskan untuk merahasiakan kerinduannya pada pohon berbunga sampai pada rintiknya. Rinti adalah bagian terkecil dari hujan. Rintik rindu adalah bagian terkecil dari rindu. Dengan demikian, hujan telah memutuskan untuk takserintikpun rindunya yang boleh diketahui oleh pohon berbunga itu. Ia tutup rapat menjadi sebuah rahasia paling rahasia. Ia merahasiakannya agar yang dirindukan tetap subur. Pohon apapun yang disiram pada waktu taktepat justru akan mati. Tentu hujan takmenginginkan pohon bunga itu mati.

Kepada siapa hujan bulan juni merahasiakan rindunya? Ya, hujan rindu kepada pohon berbunga. Tidak akan ada rindu tanpa pertemuan sebelumnya bukan? Bait inilah yang menggambarkan bahwa pada musim sebelumnya hujan telah bertemu dengan pohon bunga. Bait ini merangkup bait sesudahnya. Setelah kepergiannya, pohon bunga itu mulai berbunga. Hujanlah yang mengalirkan energi agar pohon yang sebelumnya takberbunga menjadi berbunga. Energi inilah yang menjadi ibarat dari cinta. Semusim hujan mengalirkan cintanya kepada pohon dan semusim ia harus menahan dirinya. Pada musim penantian, itulah waktu yang paling menguras energi bagi hujan. Pada saat itulah puncak perjuangan kekuatan hati hujan sebagai metafora dari perindu. Ia merahasiakan rindu setelah sebelumnya menghapus jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu. Inilah alasan terkuat yang membuat hujan bulan Juni menjadi sesuatu yang paling tabah.

Ketabahan inilah yang harus dimiliki setiap orang yang menghadapi keterpisahan. Ia sunyi, senyap, takberisik tapi penuh keyakinan bahwa yang dirindukan sedang baik-baik saja. Kerinduannya paripurna karena sebelumnya ia telah membekali yang ditinggalkannya dengan energi cinta yang sempurna. Ia hanya menjalani kerinduan bukan kekhawatiran. Ia hanya menahan diri dari keinginan untuk bertemu bukan ketakutan akan ditinggalkan. Cintanya sudah maksimal dialirkan, cintanya sudah genap memberikan energi kepada yang ditinggalkan untuk bertahan menghadapi keterpisahan. Cintanya seperti “yang takterucapkan” membuat pohon bunga menjadi pohon berbunga. []








*aku adalah orang yang memandang sesuatu dari perspektifku sendiri. silakan memiliki analisisi yang berbeda ^^8

*gambar dari om google dan lupa linknya

17 Jun 2012

Internasionale Karya Goenawan Muhammad


Menurut Franz Magis-Suseno dalam bukunya Pemikiran Karl Marx, Internasionale adalah Asosiasi buruh Internasional yang terdiri dari buruh Inggris dan Prancis. Asosiasi ini didirikan tahun 1864. Tujuan Internasionale adalah untuk melakukan pembebasan kelas buruh yang berdasarkan usaha kelas buruh sendiri. Tujuan usaha ini bukan mendirikan kelas lagi melainkan menghapus segala kekuasaan sebuah kelas atas kelas lainnya.

Dalam puisi Goenawan Muhammad yang berjudul Internasionale, kata ini adalah ikon dari buruh, ideologi buruh,dan apa yang dialami oleh mereka sejak dulu hingga kini. Puisi yang ditulis Goenawan ini ibarat sebuah’catatan pinggir’ tentang hal-hal yang berhubungan dengan sosialisme yang identik dengan bagaimana kaum buruh memperjuangkan dirinya untuk keluar dari penderitaan-penderitaan. Dalam puisi ini tertulis “Bersatulah buruh dunia, bersatulah! Kita yang dimiskinkan…” Kalimat ini cukup menjadikan internasionale sebagai ikon puisi ini.

Betapa mudahnya setiap orang menemukan literature yang berhubungan dengan sosialisme yang dibuat oleh Karl Mark sehingga kata pertama yang ditulis Goenawan dalam puisinya adalah //Di sebuah perpustakaan/ di sebuah penderitaan// Dari kalimat ini terlihat bahwa Karl Mark memarketkan ideologinya dengan menyebarkannya di perpustakaan. Orang-orang pengikutnya menyebarkan sosialisme di perpustakaan. Selain itu sosialisme juga ada pada penderitaan yang dialami oleh kaum buruh. Melalui penderitaan-penderitaan ini sosialisme dilancarkan marketnya.  Terjadi marketisasi sosialisme dalam perjuangan-perjuangan mengangkat hak-hak kaum buruh di dunia internasional.

//Lihatlah, Karl, kemerdekaan ini diperjuangkan/ dengan empat lobang kantong/yang pipih kosong/dan seorang anak yang menggantung mati kelaparan// Kalimat ini seolah sebuah pengingat untuk Karl Marx bahwa ideologi yang ia usung kini diperjuangkan bukan lagi lewat perpustakaan namun sudah lewat penderitaan yang dibuktikan dengan peristiwa bunuhdirinya seorang anak karena kelaparan.

/Kita melihat jam besar di dinding pabrik itu/gemetar/dan buruh-buruh yang pucat/penyap tersandar// Kalimat ini memperlihatkan sejauh mana perjuangan buruh-buruh pabrik bekerja. Jam besarpun sampai gemetar kelelahan berputar. Sama seperti para buruh yang tak hentinya bekerja sampai kelelahan. Hegemoni pemodal atas diri buruh diperlihatkan secara tidak langsung dalam kalimat trsebut. Namun, setelah Internasionale terbentuk, ada sebuah pencerahan yang disebutkan dalam puisi ini :

//Kemarin tidak pernah dirancang kehidupan/tapi hari ini adalah lain/dunia telah terlepas dari hambatan yang abadi, terasing dari hari tadi/daulat telah diserahkan/ kepada kehidupan/dan bumi adalah takhta maha baik/yang dimenangkan//

Kehidupan berubah. Setelah internasionale dibentuk, kaum buruh merasa diperhitugkan oleh strata sosial lainnya. Berdiriya internasionale bagi kaum buruh merupakan sebuah cara untuk menghilangkan domiasi dari strata lain. Hal ini terlihat dari penuntutan hak asosiasi internasionale terhadap pemodal di sebuah persidangan. Perjuangan mereka menuntut hak buruh saat itu gagal. Asosiasi ini kalah dalam persidangan. Kekalahan ini terjadi tahun 1864, seratus tahun sebelum puisi ini dibuat. Betapa berjayanya sosialisme sampai saat itu. Bahkan saat ini sosialisme masih dianut oleh berbagai ilmu pengetahuan dan gerakan-gerakan mahaiswa.

//Di dalam moesoleumnya Stalinpun indu/dan mengaritkan kakinya menulis sajak/di luar kaca itu melihat bumi, bumi yang bersalju/sepi, sepi.. tak beranjak.//  Kalimat ini menyiratkan pandangan Stalin yang tengah berada di bangunan makam yang luas dan megah sebagai symbol kemapanan. Ia melihat bagaimana sosialisme dan komunisme dianut oleh kaum muda. //Ketika seseorang membaca sajak-sajak/ bagi anak-anak muda di dunia/ karena mereka dalah setia, wakil sunyi dan lapar/ sementara kita// Kalimat ini menjelaskan bahwa sosialisme dianut oleh kaum muda dengan setian tapi kaum tua yang telah mapan biasanya berhianat dari faham ini.






*pembacaan paling permukaan dan menguras pemikiran waktu itu
** gambar dari sini

Membaca JADI Sutardji Calzoum Bachri


Seperti apa yang ia katakan dalam Kredo Puisi , Sutardji membiarkan kata-kata dalam puisinya bebas. Ia membiarkan kata-kata meloncat-loncat sendiri dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lain karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya. Sutardji hanya menjaga agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal (1981:13).

Deklarasi Sutardji atas ciri khasnya membebaskan kata dari maknanya membuat pembaca bebas memproduksi makna yang dibentuk oleh kata tersebut. Tugas pembaca bukan lagi hanya mengapresiasi kata berdasarkan makna yang ia miliki sebelumnya tapi mencari makna baru yang ingin dibentuk oleh kata-kata tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Kristeva (Ahil semiotik).

“Dalam puisi arti tidak terletak di balik penanda (tanda bahasa: kata) seperti sesuatu yang dipikirkan oleh pengarang, melainkan tanda itu (kata-kata itu) manjadikan sebuah arti (arti-arti yang harus diusahakan  diproduksi oleh pembaca” (Premingen dkk,1974:982 dalam Pradopo,2005:150)

Berikut ini salah satu sajak Sutardji (1981:27) yang penuh persejajaran bentuk dan arti. Pengulangan yang terdapat di dalamnya membentuk sebuah irama. Iraman menyebabkan liris dan konsentrasi. Ini adalah makna di luar kebahasaan.

        JADI
tidak setiap derita
                            Jadi luka
tidak setiap sepi
                            Jadi duri
tidak setiap tanda
                            jadi makna
tidak setiap tanya
                            jadi ragu
tidak setiap jawab
                          jadi sebab
tidak setiap seru
                          jadi mau
tidak setiap tangan
                          jadi pengan
tidak setiap kabar
                          jadi tahu
tidak setiap luka
                          jadi kaca
                                       memandang Kau
                                                                   pada wajahku!

Berbicara tentang kebebasan kata dalam menempatkan diri, maka setelah kata-kata tersebut memutuskan untuk bergabung dengan kata lain ia sudah tidak memiliki kebebasan untuk berpindah. Ia sudah tidak memiliki kebebasan untuk mejadi dirinya sendiri karena ia sudah membentuk makna yang ia bangun bersama kata lain. Makna-makna ini diproduksi dengan bebas oleh pembaca. Seperti pada puisi “JADI” di atas. Berdasarkan pendapat Kristeva, ia dapat diapresiasi atau dimaknai dengan berbagai cara. Dalam analisis ini penulis menerjemahkan puisi ini sebagai berikut :

//Memandang Kau/pada wajahku/ JADI/ tidak setiap derita jadi luka//

Jika melihat kasih sayang Kau yang terdapat pada diri ku sebagai manusia akhirnya ku akan tersadar atas keagungan-Mu hingga tidak setiap duka yang aku alami melukai hati ku. 

//Memandang Kau/pada wajahku/JADI/tidak setiap sepi/jadi duri//

Jika melihat keramaian, kebahagiaan  yang Kau berikan pada diri ku, aku akan tersadar akan kasih-Mu hingga tidak setiap sepi, (kesendirian, hal yang menyakitkan) serasa duri.

//Memandang Kau/ pada wajahku/JADI/tidak setiap tanda/jadi makna//

Memandang (kemuliaan) Kau di wajahku akan ditemukan bahwa tidak setiap tanda yang diramalkan oleh manusia akan menjadi makna yang disimpulkan oleh manusia. Karena Kau memiliki kata JADI.

//Tidak setiap tanya/ jadi ragu//

Tidak setiap pertanyaan akan keberadaan-Mu akan membuat aku ragu akan keberadaan-Mu.

 //Tidak setiap jawab/jadi sebab//

Tidak setiap apa yang aku usahakan di dunia ini jadi sebab apa yang terjadi di muka bumi ini. Contohnya tidak semua keberhasilan yang diraih di muka bumi ini berdasarkan apa yang  diusahakan manusia.

 //Tidak setiap seru/jadi mau//
Tidak setiap seruan untuk membuat aku menjauhi-Nya membuat aku mau mengikuti seruan itu karena tidak semua seruan menuju ke arah-Nya.

//Tidak setiap tangan/jadi pegangan//

Tidak setiap hal yang diusahakan dapat menjadi penyebab apa yang diraih. Hanya kepada-Nyalah kita (manusia) bergantung.

//Tidak setiap kabar/jadi tahu//
Tidak setiap berita yang dikabarkan tentang-Nya membuat aku tahu akan diri-Nya.

//tidak setiap luka/ jadi kaca//memandang Kau pada wajahku!//
Tidak setiap luka (musibah) yang Ia berikan pada manusia akan menjadi kaca (pada mata). Maksudnya tidak semua luka akan membuat mata kberkaca-kaca atau menangis atau bersedih.
 
Baris pertama sampai baris ke delapan belas puisi “JADI” adalah pengulangan kondisi yang terkadang tidak memiliki hubungan kausalitas antar kondisi / kata-kata tersebut apabila kita telah melihat Tuhan pada wajah kita. Wajah adalah citraan paling kuat yang mewakili diri manusia. Kata wajahku paling tepat mewakili manusia karena bukan manusia jika diri seseorang tidak memiliki wajah. Wajah adalah kehormatan bagi seorang manusia. Wajah adalah sesuatu yang mewakili pertemuan manusia dengan Tuhan. Dalam bacaan sholat terdapat kalimat “Inni wajahtu wajhialillahi..” ‘sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhanku.’ 

Wajah adalah cerminan diri maka apabila kita melihat kembali karunia Tuhan yang terdapat pada diri kita (manusia) maka manusia akan berserah pada Tuhan. Manusia akan berserah pada Tuhan karena Tuhan memiliki kata “JADI .“ Dalam bahasa arab padanan kata ini adalah KUN. Kata ini terasa lebih berenergi dalam bahasa Arab. Kita sering mendengar kalimat “Kun! fa yakun” ‘jadi! Maka jadilah!’ Kalimat ini adalah representasi bahwa Tuhan Maha berkehendak. Oleh karena itu, tidak setiap hal mengakibatkan hal lain yang menurut kita punya hubungan kausalitas antar keduanya jika Tuhan tidak menghendakinya.

Jika memang kata-kata dalam puisi ini bergerak sendiri untuk membentuk puisi, terlihatlah dengan jelas bahwa keagungan Tuhan, kemahaberkehendakan Tuhan diakui oleh semua mahluk di muka bumi ini termasuk kata. Tuhan dalam bahasa arab berarti illah yang kata tersebut lalu berganti bentuk menjadi Allah. Merugilah orang yang masih sombong dan tidak meyakini kebenaran agama yang dilindungi oleh Allah.





*tugas KSKU semester akhir. analisis sederhana sekali

** gambar dari sini

3 Jun 2012

Menghadapi Kemerdekaan Tanpa Cinta




Kau takan mengerti lukaku
Karena cinta telah sembunyikan pisaunya
Bayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun dalam darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti, aku tungku tanpa api


WS. Rendra




gambar dari sini

8 Mei 2012

Imaji Visual Beberapa Sajak Toffan Ariefiadi Dari Permukaan


PROLOG:
Jika rindu adalah sebuah kertas, bagai seorang ahli origami kau melipatnya menjadi dua, tiga, empat, dan seterusnya, sampai pada satu titik kertas itu tidak dapat dilipat lagi, bagaimanapun upaya yang kau lakukan. Kertas itu takdapat dilipat lagi karena ia memiliki batas struktur yang menahan perubahan dirinya.

*Meminjam Metafora Yasraf Amir Piliang

Dengan menyebut nama Roland Barthes yang berkata bahwa setelah karya diciptakan, pengarang telah mati.




Imajinasi, Metafora, dan Pemaknaan: Sebuah Pengantar

Pada awalnya imajinasi hanya milik Tuhan. Ia ciptakan seluruh mahluk dan memberi metafora-metafora atas mahluk-mahluk tersebut. Ya, makna awal metafora adalah penamaan. Ketika Tuhan menamai mahluknya, pada saat itulah Ia sedang bermetafora. Tuhan mengajari Adam untuk mengingat metafora-metafora tersebut. Sejak itulah bahasa menjadi familiar di kalangan manusia. Penamaan digunakan untuk meringkas semesta menjadi lebih mudah dibawa kemana pun kita berada. Bahasa telah membebaskan manusia dari kungkungan benda fisik dan merangkum hal-hal tidak ada menjadi ada. Dengan bahasa kita tidak perlu membawa “binatang berkumis, berkaki empat, berbulu indah, penyuka ikan,dll” untuk mewakili kata kucing. Cukup dengan mengatakan “kucing” konsep tentang “binatang berkumis, berkaki empat, berbulu indah, penyuka ikan,dll” telah muncul di benak kita. Bahasa menjadi gambaran dunia. Pada tahap ini metafora-metafora itu bersifat kognitif, satu nama untuk satu konsep. Kita mengenalnya dengan makna denotatif.

Setelah segala hal telah memiliki makna denotatifnya, Tuhan meminjamkan hak berimajinasinya kepada penyair. Dalam bersastra penyair mengubah realitas objektif menjadi realitas baru sesuai dengan latarbelakang penciptaan karyanya. Penyair memciptakan metafora-metafora baru atas sesuatu yang kita kenal dengan makna konotatif. Di satu sisi, dalam bersyair, ilmu tentang metafora adalah ilmu tentang dusta. Hal-hal yang denotatif dikemas menjadi bentuk-bentuk lain yang konotatif. Dimensi yang disajikan sangat berkaitan dengan emosi penyair yang kerap sangat jauh dari makna denotatifnya. Di sisi lain, ilmu tentang metafora adalah ilmu tentang ketahupersisan seseorang tentang sesuatu yang ia metaforkan.

Setelah lahir, karya sastra adalah realitas baru yang diciptakan oleh penyair. Menurut Barthes, setelah sebuah karya dilahirkan, penyair telah mati. Karya sastra bersifat otonom, berdiri sendiri, dan bebas dimaknai dengan cara apapun oleh siapapun tanpa campur tangan penyairnya. Lebih ekstrim lagi, menurut Derrida, karya sastra adalah realitas baru yang bebas dibaca dan diinterpretasi dengan cara yang baru, tidak dari tafsiran baku (kanon atau center) tetapi mulai dari pinggiran termasuk catatan kaki, tanda baca, dan aporia. Dengan demikian apresiasi dan pemaknaan terhadap karya sastra akan terus berputar produktif tanpa henti.

Imaji Visual

Berdasar pada pendapat dua tokoh inilah saya memberanikan diri memilih, memaknai, dan menciptakan imaji visual baru dari beberapa sajak Toffan Ariefiadi. Polanya berlawanan dengan alur imaji di atas. Normalnya kata dihasilkan dari realitas visual. Namun, sebaliknya imaji visual ini tercipta dari kata-kata yang terdapat dalam sajak. Menciptakan imaji visual dari sebuah sajak berarti sedang memperjelas sajak tersebut. Simbol-simbol yang muncul memarkahi sajak agar lebih terang.

Setelah dibaca ternyata tidak semua sajak Toffan memiliki imaji visual. Lebih tepatnya, tidak semua sajaknya dapat saya terjemahkan ke dalam gambar. Mungkin karena kepekaan saya menangkap imaji sudah mulai tumpul kini. Berikut narasi imaji visual sajak Toffan Ariefiadi.




*photografer: siriusbintang.multiply.com
** poet: topenkkeren.multiply.com

7 Mei 2012

Imaji Visual Beberapa Sajak Toffan Ariefiadi dari Permukaan

Dengan menyebut nama Roland Barthes yang menyebutkan bahwa setelah karya diciptakan, pengarang telah mati.




Imajinasi, Metafora, dan Pemaknaan: Sebuah Pengantar


Pada awalnya imajinasi hanya milik Tuhan. Ia ciptakan seluruh mahluk dan memberi metafora-metafora atas mahluk-mahluk tersebut. Ya, makna awal metafora adalah penamaan. Ketika Tuhan menamai mahluknya, pada saat itulah Ia sedang bermetafora. Tuhan mengajari Adam untuk mengingat metafora-metafora tersebut. Sejak itulah bahasa menjadi familiar di kalangan manusia. Penamaan digunakan untuk meringkas semesta menjadi lebih mudah dibawa kemana pun kita berada. Bahasa telah membebaskan manusia dari kungkungan benda fisik dan merangkum hal-hal tidak ada menjadi ada. Dengan bahasa kita tidak perlu membawa “binatang berkumis, berkaki empat, berbulu indah, penyuka ikan,dll” untuk mewakili kata kucing. Cukup dengan mengatakan “kucing” konsep tentang “binatang berkumis, berkaki empat, berbulu indah, penyuka ikan,dll” telah muncul di benak kita. Bahasa menjadi gambaran dunia. Pada tahap ini metafora-metafora itu bersifat kognitif, satu nama untuk satu konsep. Kita mengenalnya dengan makna denotatif.

Setelah segala hal telah memiliki makna denotatifnya, Tuhan meminjamkan hak berimajinasinya kepada penyair. Dalam bersastra penyair mengubah realitas objektif menjadi realitas baru sesuai dengan latarbelakang penciptaan karyanya. Penyair memciptakan metafora-metafora baru atas sesuatu yang kita kenal dengan makna konotatif. Di satu sisi, dalam bersyair, ilmu tentang metafora adalah ilmu tentang dusta. Hal-hal yang denotatif dikemas menjadi bentuk-bentuk lain yang konotatif. Dimensi yang disajikan sangat berkaitan dengan emosi penyair yang kerap sangat jauh dari makna denotatifnya. Di sisi lain, ilmu tentang metafora adalah ilmu tentang ketahupersisan seseorang tentang sesuatu yang ia metaforkan.

Setelah lahir, karya sastra adalah realitas baru yang diciptakan oleh penyair. Menurut Barthes, setelah sebuah karya dilahirkan, penyair telah mati. Karya sastra bersifat otonom, berdiri sendiri, dan bebas dimaknai dengan cara apapun oleh siapapun tanpa campur tangan penyairnya. Lebih ekstrim lagi, menurut Derrida, karya sastra adalah realitas baru yang bebas dibaca dan diinterpretasi dengan cara yang baru, tidak dari tafsiran baku (kanon atau center) tetapi mulai dari pinggiran termasuk catatan kaki, tanda baca, dan aporia. Dengan demikian apresiasi dan pemaknaan terhadap karya sastra akan terus berputar produktif tanpa henti.

Imaji Visual

Berdasar pada pendapat dua tokoh inilah saya memberanikan diri memilih, memaknai, dan menciptakan imaji visual baru dari beberapa sajak Toffan Ariefiadi. Polanya berlawanan dengan alur imaji di atas. Normalnya kata dihasilkan dari realitas visual. Namun, sebaliknya imaji visual ini tercipta dari kata-kata yang terdapat dalam sajak. Menciptakan imaji visual dari sebuah sajak berarti sedang memperjelas sajak tersebut. Simbol-simbol yang muncul memarkahi sajak agar lebih terang.

Setelah dibaca ternyata tidak semua sajak Toffan memiliki imaji visual. Lebih tepatnya, tidak semua sajaknya dapat saya terjemahkan ke dalam gambar. Mungkin karena kepekaan saya menangkap imaji sudah mulai tumpul kini. Berikut narasi imaji visual sajak Toffan Ariefiadi.









Hujan adalah kata-kata yang mencair karena rindu
Berjatuhan ia dari langit mata
Sebutir mengalir, lalu sebutir mengalir,
Ke hatimu yang samudera

Tersesat –










: Ge

di kamus
aku adalah ejaan yang terjalin
dari ramping huruf-hurufmu
lama mengendap di lembarlembar bisu
menyesap sesak harum rindu yang dinanak dengan tungku waktu dan jarak

- Di Kamus Kita Adalah Sepasang Lema





Rindu ialah pagi yang seketika menjadi simfoni
dari sulur-sulur beringin dan rerimbun dedaun jati
yang kelak akan kau kenang sebagai penunjuk arah
pulang agar taktersesat di sebuah simpang

Sejumlah Bait Rindu-







Semoga taklama lagi kujumpa engkau yang cahaya
Semoga aku-engkau adalah pelangi
Yang terhubung dalam beberapa larik warna

Semoga, Tuhan

Tersesat-








Mereka tahu hati siapa yang sedang cemas
Mereka paham benak siapa telah kebas
Berhari meredam deru yang menebar bekas
Rindu merapal doa agar lekas menetas


Malam Yang Demikian, Laut Yang Mendebarkan –








Kuarungi saja laut yang mendebarkan
Perahuku tersesat di tengah topan
Mendadak aku menjadi pelaut bimbang
Gerak jarum kompasku centang perentang
Mabuk kepayang oleh gamang pertanyaan

- Malam Yang Demikian, Laut Yang Mendebarkan








Tiada lebih kucintai selain engkau
Yang tertidur dengan senyum merah jambu
Rindu yang kau tanam pada ladang-ladang perjalanan
Kini telah matang di suatu senja yang temaram

Engkau Yang Tertidur dengan Senyum Merah Jambu-









: Isya
TELAH kukayuh
Perahu sampai jauh
hingga ke entah laut lelah kutempuh
Alangkah rindu kutambatkan sauh
Merapat dan berlabuh

Di hatimu, O, dermaga yang teduh

- Sajak Kecil Tentang Nelayan yang Rindu Kepada Dermaga





Gambar-gambar ini tercipta berdasarkan pemaknaan saya dengan support photografer keren yang amat sangat mencintai saya, Teh Nina a.k.a siriusbintang. Pemaknaanya masih sangat permukaan. Mungkin juga masih ada gambar yang meleset dari makna terdalam sajak-sajak ini. Untuk yang tidak sepakat, mari kita bersepakat untuk tidak sepakat. Silakan ciptakan imaji visual sendiri agar apresiasi terhadap sajak semakin banyak ^^8




*Jazakillah Teh Nina. Motret makro di pasir itu memang tidak mudah, dan teteh melakukannya buat aku. Semoga dimudahkan segala urusan. Aamiin. ^^


** Buat Toffan, jazakallah udah minjemin puisinya buat tugas Penciptaan ^^8




8 Apr 2012

Hatiku Selembar Daun

hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput
nanti dulu
biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang
yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi
sebelum kau sapu tamanmu
setiap pagi


[sapardi djoko damono]





*gambar dari sini
** musikalisasinya di sini