9 Sep 2012

Udah nggak semangat lagi nulis di MP

8 Sep 2012

Etahu gak? Tahu gak? Tahu gak? Hari ini aku lebaran kedua °\(^▿^)/° *gakpenting

Kenapa harus "Jangan Lupakan" by Nidji?

: Kepada Mereka Aku Rindu



Dear Sukab,

Kepada kursi ruang tunggu stasiun, Kepada bangku taman, kepada rumah ibadah, kepada kertas-gunting-batu, kepada rak-rak buku di toko itu, kepada setiap sudut jalan, sudah kusampaikan salam darimu. Salam pura-pura yang kuterjemahkan sendiri. Entah pernah terlintas lagi atau tidak di benakmu tentang mereka.

Sampaikan salamku kepada pantai, kepada suara kereta api, kepada bising terminal, kepada pintu yang kau ketuk setiap larut malam, kepada anak-anak kecil yang rajin mengaji, kepada teman pengajianmu yang mengajari soal tahnik bayi, kepada perempuan bercadar yang waktu itu berlalu, kepada penjaga rental play stasion, dan kepada setiap remeh-temeh yang aku tanyakan dan kau jawab selalu dengan sekenanya. Kepada semua yang hanya kudengar dan taksedikitpun dapat kulihat, katakan, “aku rindu.”

Kepada senja, tolong bisikkan kerinduanku. Takberniatkah kau memberi sekerat untukku? Cukup sekerat saja. Takperlu sebesar potongan yang kau berikan kepada Alina. Aku berjanji, takkanan membalas potongan senja darimu dengan surat ketus semacam yang Alina lakukan.

Kepada Ar Rahmaan, tolong sampaikan “Apa kabarmu?”
Kepada syalku, titip pesan, “baik-baiklah di sana.”
Terakhir, kepada ibu sampaikan maafku karena selalu takada kesempatan untuk bertemu.





    Penuh Cinta

    Maneka

____________________________________________________________________

*potongan syair:

ku berjalan terus tanpa henti
dan dia pun kini telah pergi
ku berdoa di tengah indahnya dunia
ku berdoa untuk dia yang kurindukan

memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
berselimut di tengah dingin dunia
berselimut dengan dia yang kurindukan

memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
bernyanyilah na na na na na
bernyanyilah untuk dia yang kurindukan

jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan pergi dari aku


Lagu: Jangan Lupakan – Nidji
Lagu dan lirik lagu dari sini



*ada beberapa syair yang dihilangkan karena beberapa alasan*

kisah Sukab dapat dibaca di website Seno Gumira Ajidarma

gambar tetap jepretan siriusbintang


Tulisan ini tugas dari @PosCinta dalam #30HariLagukuBercerita
**buat yang mau mengomentari maha karyaku ini, silakan komen di sini

7 Sep 2012

Today cuma pengen tidur *ngantuk sangad*

6 Sep 2012

Tahu gak kebiasaan anak kaderisasi akhwat kammi unpad jaman jebot? Ngegandeng kader baru. Jadi kalo jalan sama kader baru sukanya digandeeeng aja, simbol biar betah di kammi kali ya.. dan akupun jadi terbiasa melakukannya ketika jadi tim kaderisasi. --a

#GondokItu

5 Sep 2012

: Untuk Setiap Luka


Tak Ada Beban Tanpa Pundak

Terasa menyesakkan semua yang telah terjadi
apa yang ku banggakan kini tinggal cerita
kau uji aku, sekilas aku rasa tak kuasa
namun kusadari dan aku mengerti kuserahkan pada Mu

Takkan aku bertanya mengapa harus terjadi
karna aku yakini tak ada beban tanpa pundak
Kau uji aku karna ku bisa melewatinya
ini yang terbaik bagi hidupku
semua hanya ujian

Biarkan aku oh malam.
menangis di sepanjang sholatku karna hanya Allah
yang bisa membuatku tegar menjalani semua ini.

Biarkan aku oh malam.
Bersimbah Rahmat dan ampunanNya
badaipun pasti berlalu menguji imanku
aku serahkan pada Illahi.

Kini kutahu Ya Allah, tiada beban tanpa pundak
Kuatkan diri Ya Allah


Setiap luka pasti ada obatnya. Ada waktunya ia mengering dan kembali pulih. Bahkan ada luka yang takmembekas sedikitpun bukan? Hanya tubuh yang penuh perawatan yang takmemiliki bekas luka.


Begitupun hati. Hati yang terluka karena goresan orang lain atau cabikan yang disisakan oleh diri sendiri akan mengalami sakit. Pada setiap rasa sakit pasti ada kekuatan dari-Nya untuk menjalani sampai pulih. Sampai pulih. Sampai benar-benar pulih.


Dialah yang memberi luka, Dia pula yang memberi kekuatan dan penawarnya. Pada setiap rasa sakit di hati ini, cukuplah Allah Swt yang menjadi pemberi sebaik-baik obat.


Awalnya pasti luka dan rasa sakit itu akan terasa dalam, perih, menyisakan hening. Takada suara sedikitpun karena diri sibuk merasa dan menerjemahkan luka. Lalu hanya air mata yang menganaksungai, menetes, mengalir, melelahkan, menyesakkan. Lemah, lemah, lemah selemah-lemahnya. Hanya akan ada pertanyaan "mengapa?" Lalu pikiran berputar, bekerja keras mengobati luka itu dengan tuduhan-tuduhan pada sesiapa yang layak disalahkan. Pada waktu, pada manusia, pada masa lalu, pada sikap, pada dunia, bahkan pada Tuhan semua tuduhan itu ditujukan.


Setiap saat yang dilakukan adalah menyalahkan. Salah! Salah! Salah! Tidak ada yang benar di dunia ini, waktu itu. Jika bukan Allah Swt yang dijadikan pegangan, yang dilakukan adalah berlari sejauh-jauhnya dari masahal. Lelah akan datang menjadi penanda kesembuhan. Lelah adalah penolong terbaik menuju keinsyafan.


Luka adalah sapaan Allah Swt padamu tentang keberadaan-Nya. Bila hati segera sadar akan pertolongan-Nya, Ia akan segera mengobati lukamu. Ia yang memberi luka sebagai ujian, maka Ia yang akan mengobatinya. Tentu dengan obat terbaik dan terindah. Maka mengadulah hanya kepada-Nya, pada Ia yang menulis takdir dan mewujudkanya. Pada Ia yang takada sesuatupun lepas dari genggaman-Nya. Pada Ia yang memiliki jawaban atas semua pertanyaan.


Lega! lega! lega selega-leganya bila yang mendengarkanmu hanya Dia. Lalu jawaban atas setiap pertanyaan akan hadir satu demi satu dari-Nya. Hanya keyakinan tentang luka sebagai takdir terbaik yang akan muncul. Semakin dekat, dekat, dan dekat saja kepada-Nya melalui tilawah dan tahajjud yang dirindukan. Akhirnya hanya syukur yang dilakukan atas luka sedalam apapun. Apalah artinya luka-dalam bila imbalannya adalah semakin dekat dengan Allah Swt. Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah kecuali dekat dengan-Nya.

Maka pada setiap luka, syukurilah!
Semoga ia berbuah kedekatan dengan-Nya.













*Gambar dari sini

** lirik lagu dari sini

Nasyid Tak Ada Beban Tanpa Pundak by Tiar


Alhamdulillah akhirnya nemu juga group FB penerima Beasiswa Unggulan huufffh.. Semoga gak #galau lagi soal penempatan :D

Penghinaan orang kpd kita sesungguhnya jauh lbh sderhana dibanding kehinaan yg sesungguhnya bl jujur mlihat dosa diri. @aagym | terima kasih @smstauhiid

4 Sep 2012

Setiap piket pasti milih ngepel, karena ngepel adalah ending. #Halah

Kuatlah dalam kesabaran wahai hati :')

3 Sep 2012

sedih sedikit siy tapi insyaAllah ini jalan terbaik untuk fokus mendekat kepada-Nya :) #KeepFight

2 Sep 2012

Bukan nggak mau baca tulisannya tapi belum sanggup #Halah

1 Sep 2012

Pelajaran hari ini panjang bgt ^^

31 Agu 2012

Riung Bandung #Hujan Alhamdulillah *waktunya berdoaaa*

How Does It Feel?



How does it feel?
Hatiku tentu berkata demikian soal pengalaman itu. Tentang adanya seseorang yang memeras keberaniannya, menanggalkan keraguannya dan berbisik soal akad suci. Tentang diajak berjuang bersama menjalani kehidupan berdua. Walaupun sudah mengikuti pendidikan tentang pernikahan, sudah berkali-kali menghadiri walimahan, sudah membaca buku soal rumah tangga, tapi pertanyaan itu tetap muncul. How does it feel?

Perasaan itu benar-benar misteri buatku. Mengapa? Ia terasa amat dekaaat. Setelah pada suatu hari seorang teman memintaku menemaninya sebelum pernikahan. Fulanah, Fulanah, Fulanah, mereka kutemani semalam sebelum seorang lelaki mengucapkan akad suci dengan ayah mereka. I just can be someone beside them! Apa yang mereka rasakan tetap tak aku alami bukan? Belum lagi amanah membuat rundown acara pernikahan. How amazing it is? Rasanya pertemuan suci itu semakiin dekat! Allah semakin mempersiapkanku untuk menghadapi hari itu dengan penuh keberanian dan kemantapan.

"Baju ini cocok nggak buat akad?" ujar seorang teman. Subhanallah.. senyumku tersungging lebar. Bahagia sekali melihat mereka bahagia. Baju akad, baju resepsi, baju pertama yang akan digunakan untuk memuliakan suami. Semua diperlihatkan kepadaku. Hanya bisa menilai, membayangkan tapi perasaan itu tetap saja misteri.

Terakhir, saudaraku yang lain bertanya soal cincin yang diberikan oleh suami, apakah itu termasuk mahar atau hanya hadiah. Nampaknya saudaraku ini sedang ditanya oleh calon suaminya tentang mahar yang ia minta. Aku tentu takboleh berkata, "kok nanya ke aku siy! aku kan belum nikah!" Hmm.. How amazing this story. Namun hatiku tetep berujar, "how does it feel?"

yang aku tahu hanya soal menjaga diri, memantaskan diri, mempersiapkan diri sebelum pernikahan. aku sudah jelas pernah merasakannya. yang aku tahu hanya soal kebisuan menjadi perempuan. biarlah Allah yang mengunci sebuah ruang di hati ini sampai tiba saatnya seseorang membukanya. biarlah aku duduk di ruang tunggu ini sampai ada seseorang yang keluar dari sebuah ruangan atau dia membuka pintu dan membawaku ke tempat lain. i certanly know this feeling!

sebiasa apapun perasaan itu, semoga aku merasakannya. sebuah kelegaan yang amat sangat pada akhirnya.


DALAM DIRIKU
Dalam diriku mengalir sungai panjang, Darah namanya |
Dalam diriku menggenang telaga darah, Sukma namanya |
Dalam diriku meriak gelombang sukma, Hidup namanya |
Dan karena hidup itu indah, Aku menangis sepuas-puasnya [SDD]

30 Agu 2012

How does it feel? :')

mulai ngerti caranya mainan WP \(^,^)/ langitshabrina.wordpress.com lumayan seru buat belajar nulis yang agak bener hehehe...

29 Agu 2012

Hidup Taklebih Dari Soal Kehilangan Bukan?


"Hidup taklebih dari soal kehilangan bukan?" Demikian seorang teman bertutur ketika kami bercerita soal kehilangan dan masa lalu.

"Aku takpunya apa-apa maka itu aku takkan kehilangan apa-apa" begitu pernyataan saya selanjutnya saat menimpala pernyataan kawan saya tadi.

Setelah perbincangan itu, saya menemukan banyak contoh soal kehilangan ini. Hidup memang taklebih dari soal kehilangan. Kehilangan uang, kehilangan teman, kehilangan barang, kehilangan kekasih, kehilangan keluarga, bahkan kehilangan iman. Lantas apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa kehilangan ini? Pertanyaan ini yang berkecamuk dalam pikiran saya.

Dalam kamus Bahasa Indonesia terdapat beberapa pemaknaan soal hilang dan kehilangan:

hi•lang v 1 tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan 2 tidak ada lagi perasaan (spt marah, jengkel, suka, duka), kepercayaan, pertimbangan 3 tidak dikenang lagi; tidak diingat lagi; lenyap 4 tidak ada, 5 meninggal

ke•hi•lang•an 1 n hal hilangnya sesuatu; kematian; 2 v menderita sesuatu krn hilang


Ternyata dalam kamus, hilang dapat dimaknai dalam dimensi fisik dan emosional. Pada dimensi fisik, sesuatu hilang dan benar-benar tidak ada lagi secara fisik maupun emosional. Pada dimensi emosional, sesuatu atau seseorang mungkin saja masih ada di dunia ini secara fisik tapi ia sudah tidak dikenang lagi dalam dimensi emosional kita. Yang paling pasti, makna kehilangan dalam bahasa Indonesia adalah "menderita sesuatu karena hilang." Setiap kehilangan pasti mengakibatkan penderitaan, walaupun penderitaan tersebut bisa berlangsung dalam waktu lama atau sebentar. Lama sebentarnya penderitaan ini bergantung seberapa berharga benda atau seseorang yang hilang tersebut.

Dalam perkara kehilangan, kesadaran bahwa kita takmemiliki apa-apa, semua adalah milik Allah Swt merupakan pakem yang harus dipegang. Namun, sebelum kehilangan terjadi, Allah Swt menugasi kita untuk berjuang mempertahankan apapun yang ada pada genggaman kita. Inilang yang disebut tanggung jawab atas sebuah titipan. Jika segala sesuatu yang ada pada genggaman dimaknai sebagai titipan, kita pasti akan bertanggung jawab menjaganya.

Pada uang, pada keluarga, pada benda, pada cinta, pada iman, dan pada apapun, jika kita menempatkannya sebagai sesuatu yang harus ditanggungjawabi maka kita takkan pernah memiliki apa-apa dan takkan pernah kehilangan apa-apa. Uang yang kita kelola dengan penuh tanggung jawab pasti tidak akan hilang dan justru mendatangkan uang yang lain. Keluarga, cinta, iman yang kita jaga dengan penuh tanggung jawab tidak akan hilang dan justru akan melahirkan hal lain. Hal lain itu bisa berupa perasaan tenang, tentram, atau bahkan berupa pahal surga.

Kesadaran takmemiliki apa-apa ini bukan berarti kita pasrah diri dan takberusaha untuk mempertahankan yang ada pada genggaman kita. Kesadaran takmemiliki apa-apa ini melahirkan tanggung jawab untuk menganggap bahwa setiap yang ada dalam genggaman adalah titipan Allah Swt. Kita harus bertanggung jawab untuk menjaganya. Saat apa-apa yang ada pada genggaman kita hilang, itu adalah pertanda bahwa kita telah gagal bertanggung jawab menjaganya.

Sebagai contoh, keimanan yang telah Allah Swt berikan kepada kita. Hal ini sangat jarang dimaknai sebagai sebuah anugerah. Ia hanya dimaknai sebagai sesuatu yang given tanpa dirasa ada tanggung jawab untuk mempertahankannya. Maka pada segala sesuatu yang sebenarnya dapat mengikisnya, kita terkadang lengah dan sedikit demi sedikit kehilangan kekuatan iman. Hidup itu taklebih dari nafsu yang datang mengikis iman. Nafsu biasanya berkaitan dengan hal-hal yang menyenangkan dan disukai manusia. Harta, tahta, dan wanita biasanya menjadi ujian nafsu-nafsu kita. Memiliki harta, tahta, dan wanita dengan cara yang takbertanggung jawab biasanya menjadi penyebab hilangnya iman. Hal-hal yang berkaitan dengan pemuasan nafsu pasti menyenangkan, tapi apalah artinya hidup ini bila hanya penuh dengan pemenuhan nafsu tanpa tanggung jawab? Hidup takada harganya sama sekali di hadapan Allah Swt. Padahal celakalah kita ketika kehilangan iman. Apa jadinya masa depan kita di akhirat saat iman sudah tidak ada pada diri?

Contoh lain adalah anak-anak kita. Kita sering melihat anak-anak jalanan yang bekerja sebagai pengamen, pengemis, atau bahkan gelandangan. Tanpa tanggung jawab, kita hanya akan kehilangan anak-anak kita. Anak-anak kita tentu tidak akan kabur dari rumah jika dididik dengan penuh tanggung jawab. Bila kita menganggapnya sebagai milik kita tanpa bertanggung jawab atasnya, bersiaplah kehilangan mereka. Saat mereka melakukan kesalahan, yang muncul adalah logika benar-salah. Aku benar dan kamu salah.

Saat mereka memilih untuk berteman dengan anak-anak punk yang takjelas arah masa depannya, kita terkadang akan menyalahkan mereka. Padahal pasti ada andil kita dalam ketakjelasan pilihan lingkungan mereka. Allah Swt menitipkan anak-anak tentu harus dijaga dengan tanggung jawab. Boleh jadi mereka adalah ujian keimanan untuk kita. Boleh jadi kita tidak menganggapnya sebagai titipan Allah Swt, akhirnya Allah Swt menguji kita dengan pilihan mengikuti jejak anak-anak yang kabur dari rumah. Boleh jadi kita menganggapnya sebagai milik kita dan lupa menyerahkan penjagaan atas anak-anak kita kepada Allah Swt. Anak-anak itu adalah milik Allah Swt, kita mendapat amanah dititipi dari Allah Swt, tapi secara maknawiyah biarlah Allah Swt sebagai pemiliknya yang menjaga mereka.

Apapun yang dikaruniakan Allah Swt kepada kita menyisakan tanggung jawab pada akhirnya. Sebelum kehilangan apapun, tugas manusia hanya menjaga dengan penuh tanggung jawab. Jangan sampai Allah Swt mengambil titipan-Nya karena kita takpernah menjaga titipan-Nya dengan penuh tanggung jawab. Jagalah apapun yang Allah Swt karuniakan sebelum kita kehilangannya.

"Apapun yang dijaga dengan penuh tanggung jawab akan menyertai kita sebagai masa depan, dan apapun yang takpernah dijaga dengan tanggung jawab hanya akan hilang menjadi masa lalu."